Industri Primer Minerba Butuh Perencanaan Matang

Rabu, 27 Maret 2013 | 16:33

JAKARTA – Kadin Indonesia meminta kepada pemerintah agar pengusaha nasional yang melakukan investasi di bidang industri primer (industri hulu) minerba, seperti alumina/aluminium, tembaga, nikel, besi, emas, dan industri kimia petrokimia mendapat jaminan hukum yang kuat dan tegas, misalnya dengan undang-undang.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah Natsir Mansyur mengatakan hal tersebut diperlukan karena investasi yang digelontorkan di bidang industri primer ini sangat besar. “Masa pengembalian investasinya panjang, jadi harus diperhatikan,” kata Natsir yang juga merupakan Dirut PT Indosmelt di Jakarta, hari ini.

Selama ini, tambah Natsir, jaminan hukum/regulasi dari pemerintah belum mencukupi untuk melindungi pengusaha yang membangun industri primer ini. “kenapa kami usulkan begini karena politik Indonesia tidak stabil, masih panas dingin, politik perlu jalan sehat maka investasi jangka panjang berjalan tenang,” ujarnya.

Kadin menilai, Undang-undang Minerba 4/2009, UU industri, inpres, belum menjamin investasi industri primer. Tax holiday dan regulasi yang ada pun belum cukup, sehingga perlu aturan yang berlapis untuk melindungi investasi di industri primer ini.

Kadin meminta empat kementerian, di antaranya Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan dan Kementerian Perdagangan berkoordinasi yang serius dan tidak membawakan egoisme sektoral kementerian.

“Kementerian ESDM tidak perlu mengatur kuota ekspor minerba, tidak perlu mengatur masalah industrinya. Peran daerah tertinggal sebagai penghasil minerba justru harus diberdayakan supaya tidak tertinggal,” ungkap Natsir.

Kementerian ESDM, jelas dia, perlu mengatur sumberdaya alamnya saja dan tidak mengatur semuanya. Kadin mempersiapkan usulan/argumen kepada pemerintah dan DPR RI agar UU Minerba 4 /2009 bisa diamandemen.

Melihat persiapan membangun industri primer ini membutuhkan waktu, Kadin mengingatkan agar pembangunannya bisa dipersiapkan dengan matang.

“Jangan kita buru-buru bangun, tapi tidak dipersiapkan dengan matang. Jangan hanya mementingkan pencitraan. Kalau 2014 diberlakukan penghentian ekspor minerba ore/konsentrat, maka akan terjadi penurunan ekspor yang sangat besar dari target yang ada,” tandas Natsir.

Lebih jauh, kata dia, penurunan pendapatan negara sangat besar. Oleh karenanya, pihaknya mengimbau agar pembangunan industri primer minerba harus dengan perencanaan yang baik. Pihaknya juga optimistis, dengan pengembangan industri primer bisa menjadikan Indonesia sebagai negara industri terbesar dunia setelah China, asal setiap Kementerian tidak lagi mementingkan egoisme sektoral. (Investor Daily/INA)

http://www.investor.co.id/energy/industri-primer-minerba-butuh-perencanaan-matang/57624

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s