EKSPOR BIJI MINERAL: Pemerintah Didesak Buat Aturan Pembatasan

Ismail Fahmi   –   Kamis, 11 April 2013, 16:44 WIB

 BISNIS.COM, JAKARTA–Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) diminta segera membuat aturan mengenai pembatasan ekspor bijih mineral untuk menjaga cadangan mineral dan menjaga iklim industri pertambangan di dalam negeri


Achmad Ardianto, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mengatakan pemerintah melalui Kementerian ESDM harus segera menentukan fokus kebijakan pembatasan ekspor bijih mineral. Pembatasan tersebut, juga harus memperhatikan cadangan mineral di dalam negeri dan iklim usaha industri pertambangan.

“Pemerintah harusnya dapat memastikan seluruh pelaku industri pertambangan memiliki persepsi yang sama mengenai ekspor bijih mineral. Karena cadangan mineral dan iklim industri pertambangan harus dijaga,” kata pria yang akrab disapa Didi itu di Jakarta, Kamis (11/4).

Didi mengungkapkan pembatasan ekspor bijih mineral sebenarnya telah sejalan dengan amanat undang-undang (UU) No. 4/2009 tentang Mineral dan Batu Bara.

Dalam UU tersebut diamanatkan seluruh bijih mineral yang ditambang di dalam negeri harus diolah dan dimurnikan di Tanah Air untuk mendapatkan nilai tambah.

Peningkatan nilai tambah di dalam negeri itu lah yang menurut Didi memiliki efek berkelanjutan yang baik. “Meskipun produk akhir di ekspor, kalau bijih mineral itu diolah dan dimurnikan di dalam negeri kan ada nilai tambahnya.
Akan ada lapangan kerja dan penerimaan negara,” jelasnya.

Terkait pernyataan Menteri ESDM Jero Wacik yang masih memperbolehkan ekspor bijih mineral pada 2014 nanti, Didi menyebut hal tersebut merupakan dorongan bagi para pelaku usaha untuk mengolah dan memurnikan hasil tambangnya di dalam negeri. Pasalnya, selama ini komitmen pelaku usaha untuk melaksanakan amanat UU No. 4/2009 itu masih sangat kurang.

Dari data Ditjen Minerba Kementerian ESDM, hingga April 2013 telah ada 285 proposal pendirian smelter yang diajukan kepada pemerintah. Dari jumlah tersebut, 24 diantaranya diajukan sebelum Peraturan Menteri ESDM No. 7/2012 dikeluarkan.

Sementara 254 proposal diajukan setelah Permen ESDM No. 7/2012 dikeluarkan, dan 7 proposal sisanya telah ditindaklanjuti dengan pendirian smelter yang saat ini telah beroperasi. Selain itu, Ditjen Minerba juga mencatat hingga kini baru 11 proposal pengolahan dan pemurnian yang berpotensi untuk dibangun.

11 perusahaan yang mengajukan proposal pembangunan smelter yang potensial adalah PT Aneka Tambang (Persero) Tbk yang akan membangun smelter nikel di Halmahera Timur dengan investasi mencapai US$1 miliar. PT Indonesia Chemical Alumina yang akan membangun smelter bauksit di Sanggau dengan investasi mencapai US$450 juta. (if)

Sumber : Lili Sunardi

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s