Wah, 12 Kontraktor Migas Tekor Rp19 Triliun

Lili Sunardi   –   Rabu, 12 Juni 2013, 06:49 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA — Sedikitnya 12 kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) minyak dan gas bumi (migas) merugi alias tekor hingga US$1,9 miliar, atau dengan kurs rupiah sekarang, sekitar Rp19 triliun.  Ini karena mereka gagal mendapatkan cadangan migas yang ekonomis dari 16 blok eksplorasi.

Angka itu diungkapkan oleh Aussie B Gautama, Deputi Pengendalian Perencanaan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Migas (SKK Migas), seperti dilaporkan harian Bisnis Indonesia, Rabu (12/6).

Ke-12 KKKS tersebut adalah ExxonMobil (wilayah kerja Surumana dan Mandar); Statoil (Karama); ConocoPhillips (Kuma, Amborip VI, dan Arafura Sea); Talisman (Sageri); Marathon (Pasang Kayu); Tately (Budong-Budong); Japex (Buton); CNOOC (SE Palung Aru); Hess (Semai IV); Niko Resources (Kofiau, West Papua IV, dan North Makassar Strait); dan Murphy Oil di Semai.

Aussie mengatakan, 12 KKKS tersebut ingin mengembalikan 16 blok eksplorasi yang dikelolanya tersebut. Dana yang dikeluarkan kontraktor sebesar US$1,9 miliar tersebut tidak akan dikembalikan negara melalui mekanisme cost recovery, karena tidak menghasilkan minyak.

Pengeboran eksplorasi migas di 16 blok laut dalam itu sudah dimulai sejak 2009. Hingga tahun ini telah dilakukan pengeboran 25 sumur eksplorasi yang menghabiskan biaya US$1,9 miliar. “Tetapi sampai sekarang belum menemukan cadangan migas yang komersial,” katanya.

Aussie mengungkapkan 12 KKKS tersebut berencana mengembalikan wilayah kerja eksplorasinya kepada pemerintah dalam waktu dekat. Karenanya, pemerintah harus menjaga iklim investasi di sektor hulu migas agar mereka tidak kabur.

Cadangan minyak nasional saat ini hanya sekitar 3,6 miliar barel dan diperkirakan akan habis dalam waktu beberapa belas tahun dengan asumsi tingkat produksi saat ini, tidak ada penurunan produksi ke depan, serta tidak ditemukan cadangan minyak baru.

Selain 16 wilayah kerja eksplorasi yang akan dikembalikan kepada Pemerintah, lanjut Aussie, ada 2 blok migas eksplorasi laut dalam, yakni Blok Kumawa dan Blok Bone Bay yang akan dialihkan pengoperasiannya dari Marathon Oil kepada Niko Resources.

Niko Resources sendiri merupakan KKKS yang masih aktif melakukan kegiatan eksplorasi laut dalam. Saat ini, perusahaan tersebut mengoperasikan 21 blok eksplorasi dengan 3 blok diantaranya non-operator.

Pada 2013 hingga 2014 mendatang Niko Resources akan melakukan lima pengeboran eksplorasi laut dalam di 5 wilayah kerja eksplorasinya. Untuk melaksanakan kegiatannya, perusahaan mengeluarkan US$600.000 per tahun untuk setiap blok dan US$90 juta untuk pengeboran sumur migas dengan kedalaman 20.000 kaki.

HAL BIASA?

Secara terpisah, Dirjen Migas Kementerian ESDM Edy Hermantoro mengatakan pengembalian wilayah kerja migas oleh KKKS merupakan hal yang biasa di industri hulu migas. Pasalnya, hal tersebut terkait dengan technical subsurface yang dilakukan perusahaan dalam kegiatan eksplorasi,

“Bila dalam jangka kontrak tidak menemukan [cadangan migas] maka kewajiban kontrak kerja sama dikembalikan. Jadi sebetulnya ini lebih terkait denga technical subsurface, dimana dengan komitmen kegiatannya belum menemukan sejumlah cadangan,” ungkapnya.

Pemerintah nantinya akan menerima blok tersebut jika memang KKKS belum menemukan cadangan migas dengan berbagai pendekatan dan konsep subsurface dalam jangka waktu komitmennya. Kemudian, Pemerintah akan melakukan kajian kembali terhadap cadangan blok itu berdasarkan data yang diperoleh dari KKKS. (Lili Sunardi)

http://www.bisnis.com/wah-12-kontraktor-migas-tekor-rp19-triliun

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s