Produksi Bijih Freeport Turun 20%

Lili Sunardi   –   Selasa, 09 Juli 2013, 12:53 WIB

Bisnis.com, JAKARTA–PT Freeport Indonesia kehilangan 20% produksinya tahun ini, akibat ditutupnya fasilitas pertambangan bawah tanah dan pertambangan terbuka selama 2 bulan sejak runtuhnya terowongan Big Gossan yang menewaskan 28 orang.

Direktur Utama PT Freeport Indonesia Rozik B. Soetjipto mengatakan produksi bijih tahun ini diperkirakan akan lebih rendah 20% atau sebanyak 176.000 dari target yang sebesar 220.000 ton per hari. Hal itu disebabkan oleh tidak beroperasinya Grasberg dan Deep Ore Zone (DOZ) selama 2 bulan akibat insiden yang terjadi di Big Gossan.

“Penurunan target produksi ini juga karena pertambangan bawah tanah [DOZ] memerlukan waktu sekitar 1 bulan agar dapat berproduksi dengan kapasitas normal. Itu lebih lama dibandingkan dengan Grasberg yang bisa dengan cepat berproduksi dengan kapasitas normal setelah ditutup,” katanya di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (9/10).

Rozik mengungkapkan kualitas bijih dari Grasberg yang lebih asam juga mengakibatkan PT FI pesimistis mencapai target tahun ini. Pasalnya, bijih dari Grasberg harus dicampur dengan bijih dari DOZ dalam pengolahannya agar mendapatkan tingkat keasaman yang pas.

Selama ini 70% dari total produksi PT FI berasal dari pertambangan terbuka Grasberg, dan 30% sisanya berasal dari pertambangan bawah tanah DOZ.

Penurunan target produksi itu juga mengakibatkan PT FI menghentikan sementara pasokan bijih ke beberapa negara tujuan ekspor. Perusahaan akan memprioritaskan untuk memasok bijih kepada PT Smelting Gresik yang selama ini mengolah 35% bijih yang diproduksinya.

“Karena kami sudah mengumumkan berhenti beroperasi kepada konsumen yang telah berkontrak maka tidak ada pinalti yang harus kami bayarkan. Tetapi kami akan berusaha memenuhi kewajiban kami dengan produksi dari Grasberg dan cadangan kami,” ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan Pemerintah telah mengeluarkan izin operasional di seluruh fasilitas pertambangan PT FI. Izin tersebut mulai berlaku pada Selasa 9 Juli 2013, setelah Pemerintah mendapatkan laporan dari tim independen yang melakukan investigasi.

“Surat persetujuan beroperasi kembali pertambangan PT FI sudah ditandatangani Dirjen Minerba dan sudah diberikan kepada Dirut PT FI,” jelasnya.

Susilo mengungkapkan PT FI harus memperkuat penyanggah seluruh terowongan bawah tanahnya dan memasang alat pendeteksi batuan. Dengan begitu, perusahaan dapat mengambil langkah antisipatif agar fasilitas bawah tanahnya tidak kembali runtuh seperti yang terjadi di Big Gossan.

Selain itu, perusahaan juga dilarang melakukan pelatihan yang tidak terkait langsung dengan teknik pertambangan di bawah fasilitas bawah tanah.

Terkait penyebab runtuhnya Big Gossan, Susilo menegaskan hal itu terjadi karena musibah, sehingga tidak dapat dipersalahkan. Menurutnya, telah terjadi penurunan kualitas batuan yang berakibat pada runtuhnya fasilitas Big Gossan.

Editor : Bambang Supriyanto

http://www.bisnis.com/produksi-bijih-freeport-turun-20

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s