Produksi Gas Alam Cair Nasional 75 Persen Diekspor

Rabu, 24 Juli 2013 | 16:13

JAKARTA-Satuan Kerja Khusus Pelaksana Hulu Minyak dan Gas Bumi memperkirakan produksi gas alam cair proyek Indonesia Deepwater Development yang dipasok ke domestik maksimal 25 persen dan 75 persen lainnya ekspor.

Kepala SKK Migas Rudi Rubiandiani di Jakarta, Rabu (24/7) mengatakan, lapangan IDD yang dikelola Chevron Indonesia Company, berada di laut dalam Selat Makassar, lepas pantai Kaltim, sehingga membutuhkan investasi besar untuk memperoleh gasnya.

“Oleh karena itu, maksimal ke domestik 25 persen,” katanya.

Menurut dia, porsi alokasi mesti mempertimbangkan kemampuan harga gas domestik dan keekonomian lapangan.

Semakin tinggi keekonomian lapangan yang artinya harga gas semakin mahal, maka makin rendah alokasi ke domestik.

Sedang, porsi terbesar dari gas diekspor dengan harga tinggi, sehingga terjadi subsidi silang.

Kalau IDD yang berada di laut dalam, maka harga gasnya pastilah mahal, sehingga porsi ke domestik juga kecil.

SKK Migas sudah mengalokasikan 179 kargo LNG dari IDD untuk pembeli domestik pada periode 2016-2021.

Rinciannya, pasokan ke FSRU Jabar 53 kargo, FSRU Jateng 39 kargo, FSRU Lampung 37 kargo, FSRU Banten 30 kargo, dan Terminal Arun 20 kargo.

Menurut Rudi, saat ini, Chevron sedang menegosiasikan dengan pembeli gasnya.

SKK Migas sudah menunjuk Chevron sebagai penjual gas IDD.

“Jadi, meski nanti gasnya masuk ke Kilang Bontang, Kaltim, namun tetap Chevron yang menegosiasikannya,” katanya.

Senior Vice President Strategic Business Support Chevron Yanto Sianipar mengatakan, saat ini, tahapan beberapa lelang rekayasa, pengadaan, dan konstruksi (engineering, procurement, and construction/EPC) untuk proyek IDD sedang berlangsung.

“FID (final investment decision atau keputusan akhir investasi) belum dilakukan karena masih menyelesaikan beberapa persyaratan untuk pengambilan keputusan tersebut,” katanya.

Pada Desember 2012, Chevron sudah menetapkan pemenang�kontrak perencanaan atau “front-end engineering and design” (FEED) pengembangan�Gendalo dan Gehem.

Proyek Gendalo dan Gehem yang terletak di kedalaman sekitar 6,000 kaki mencakup pengembangan dua fasilitas utama yang terpisah.

Masing-masing fasilitas utama itu dilengkapi dengan unit produksi terapung (floating processing unit/FPU), pusat pengeboran bawah laut (subsea), jaringan pipa ekspor gas dan kondensat (export pipeline), dan fasilitas penerimaan darat (onshore receiving facility).

Produksi maksimum Gendalo dan Gehem diperkirakan mencapai 1,1 miliar kaki kubik gas alam per hari dan 31.000 barel kondensat per hari.

Chevron menetapkan kontrak FEED untuk FPU dikerjakan PT Technip Indonesia, kontrak jaringan pipa produksi bawah laut kepada PT Worley Parsons Indonesia, kontrak jaringan pipa ekspor kepada PT Worley Parsons Indonesia, dan kontrak fasilitas penerimaan darat kepada PT Singgar Mulia.

Saat ini, Chevron memiliki 80 persen saham dalam proyek itu.

IDD merupakan proyek yang akan mengembangkan lima lapangan gas laut dalam di Selat Makassar yaitu Lapangan Bangka, Gehem, Gendalo, Maha, dan Gandang.

Proyek ini diharapkan mulai menghasilkan dari Bangka dengan tingkat produksi gas 150 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan kondensat 60 ribu barel per hari mulai 2016 .

Dilanjutkan, Gendalo dengan produksi gas 700 MMSCFD dan kondensat 25 ribu pada 2017.

Terakhir, proyek Gehem sebesar 420 MMSCFD dan kondensat 25 ribu barel per hari pada 2018.(*/hrb)

http://www.investor.co.id/energy/produksi-gas-alam-cair-nasional-75-persen-diekspor/65423

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s